Hitted

msn live statistics

Sunday, January 5, 2014

Sisi Lain dari Diperjuangkan

Kamu semua tahu, dan mungkin sering membaca, tentang perasaan orang yang ditinggalkan. Orang-orang yang berjuang namun tetap ditinggalkan. Kali ini, aku akan menulis tentang sisi lain dari diperjuangkan.

Dulu, aku pernah menjadi orang yang berjuang namun tetap ditinggalkan. Saat itu aku merasa sangat tidak adil; bagaimana bisa ia dengan gampangnya pergi? Kenapa dia berhenti mencoba dan memutuskan untuk mencari yang baru? Apakah keadaan kita sudah seburuk itu?

Jawabannya baru kuketahui sekarang: iya.

Kadang, aku masih suka memikirkan tentang rasa sakit hati ditinggalkan dulu, dengan perasaan yang lebih netral. Aku pun akhirnya melihat-memang kita sudah tidak bisa dipaksakan. Dia hanya melihatnya lebih dulu, dan menghindari konflik yang tidak berkesudahan.

Orang yang masih tidak bisa melihat titik disfungsi dari sebuah hubungan, mereka biasanya yang masih memperjuangkan. Seperti aku, dulu.

Kadang, menjadi orang yang terus diperjuangkan itu tidak enak. Menjadi orang yang berjuang justru lebih enak. Ia memiliki tujuan dan keinginan yang jelas: melanjutkan hubungan. Orang yang diperjuangkan itu juga terkadang tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Yang dia tahu hanya keadaan seperti ini sudah tidak bisa lagi dipertahankan.

Kadang mereka yang berjuang bilang enak ya kalian tinggal pergi gitu aja, namun mereka yang diperjuangkan juga ingin berteriak enak ya kalian, menyiksa batin kami sampai titik dimana kami tidak tahu lagi apa yang sedang kami lakukan, sampai kami akhirnya memutuskan untuk pergi, namun kalian terus memblokir jalan kami dengan ucapan maaf dan tangisan penyesalan. 

Kalian pikir memutuskan untuk pergi itu gampang? Memutuskan untuk berhenti berjuang itu mudah? Ini bukan masalah rasa sayang, bukan. Entah kalian tahu atau tidak, tapi ada loh rasa sakit yang bahkan rasa sayang pun tidak lagi cukup mengakomodir.

Kalian pikir memaafkan kalian lalu memulai lagi semuanya itu mudah? Asal tahu saja, orang yang berjuang sesungguhnya merasa tolol setelah menarik lagi keputusan untuk mengakhiri semuanya. Sungguh rasanya tolol, karena mereka, yang diperjuangkan, sudah tahu kalau keadaan tidak akan pernah bisa berubah. Setidaknya, tidak semudah itu. They learn the hard way.

Perasaan orang yang diperjuangkan pun tidak akan pernah utuh, karena orang yang berjuang sebagian besar tidak benar-benar berjuang. Mereka hanya minta maaf, menyesal, namun akan ada saatnya mereka mengulangi kesalahan yang sama. Semua ini terasa seperti bermain lego dengan satu bagian yang hilang, atau tidak saling berhubungan. Mau bagaimanapun, tidak akan bisa lengkap. Namun saat kita memutuskan untuk berhenti bermain, mereka yang berjuang akan merusak semua bangunannya dan memaksa untuk membangun lagi dari awal. Padahal mereka juga tahu ada sesuatu yang hilang. Mereka hanya tidak mau, atau belum, menyadarinya.

Namun, perasaan bukanlah lego. Perasaan tidak sekokoh lego, yang anti air dan tidak mudah pecah. Perasaan tidak sekuat lego, yang setelah dihancurkan berkalikali tetap saja dapat tersusun rapi.

Setiap mereka yang diperjuangkan memberi kesempatan kedua (dan ketiga, keempat, kelima, keenam, ketuju) ketahuilah, semakin banyak kesempatan yang diberi, semakin berkurang perasaan yang tersisa.

X

2 comments:

  1. wow. never thought about that before.
    dikorelasikan sama komitmen nar, gimana? pada akhirnya komitmen kayaknya ya yg bisa membuat suatu hubungan bertahan. kayaknya sih. gatau juga dink

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang diperjuangkan kan komitmennya, but even at the strongest ones have terms and conditions kan :) and when the T&C are no longer applied..

      Delete

Hit me