Hitted

msn live statistics

Sunday, January 26, 2014

Sometimes, I have my breakdown moment when I just hate everything in my life and my head is filled with regrets of things I chose not to have/be/do. My bestfriends know this. I will just shut myself out for a while, and then call them when I am ready, and everything back to normal. I used to wonder why does I always have this stupid insecurity break down time? Is it because of PMS? Maybe, but now I think I know why.

Sometimes, we are just going too far we have to be reminded of what we already have. Every breakdown moments I have make me thankful of what I really have in my life. Like this time. I was on the edge of breaking down. Everyone feels distant, and I just want to punch some people in the face. I think about the fact that I dont really have time to catch up with some of my friends make me started to lose them one by one. One friend even accused me of forgetting friends after I was taken. Others said that I was picky. Another said I was anti-social.

No, it was not like that.

My days were always occupied. I had college from Monday to Friday, and I have work at Monday, Saturday, and Sunday. I did not always check my phone besides text messages. I was never a super girl who was always occupied but still can stay up till late. No. When I got home after college and work, I was already worn out. I sometimes did not took a bath and I just went straight to bed. In the morning, I usually did my task from college (yes thank God I am a quick task doer) and then went straight to my class. When would you expect me to socialize?

Picky? Anti-social? No. I am just not the type of everybody's friend, you know what I mean? I am more comfortable in just a small circle of people who I can really trust. Yes. I have a trust issue. Once I trust someone, I will keep them in my life till they break my trust. Yep, I am a keeper. The downside is, I dont really care about people whom I dont trust, and I just cant rebuild my trust to people who break it. Its not as if I never try, God knows I try, but I just cant. Everytime I have a breakdown, my bestfriends will always always reassure me that everything is okay, it is all just in my head.

See, now I just decided not to care anymore if I dont please everybody. I dont expect them to please me anyway. I have bestfriends who are willing to go miles for me, who are always there to listen, who are always there to pick me up, who accept me for who I am. They are the ones that are worth to please.


X

Sunday, January 5, 2014

Sisi Lain dari Diperjuangkan

Kamu semua tahu, dan mungkin sering membaca, tentang perasaan orang yang ditinggalkan. Orang-orang yang berjuang namun tetap ditinggalkan. Kali ini, aku akan menulis tentang sisi lain dari diperjuangkan.

Dulu, aku pernah menjadi orang yang berjuang namun tetap ditinggalkan. Saat itu aku merasa sangat tidak adil; bagaimana bisa ia dengan gampangnya pergi? Kenapa dia berhenti mencoba dan memutuskan untuk mencari yang baru? Apakah keadaan kita sudah seburuk itu?

Jawabannya baru kuketahui sekarang: iya.

Kadang, aku masih suka memikirkan tentang rasa sakit hati ditinggalkan dulu, dengan perasaan yang lebih netral. Aku pun akhirnya melihat-memang kita sudah tidak bisa dipaksakan. Dia hanya melihatnya lebih dulu, dan menghindari konflik yang tidak berkesudahan.

Orang yang masih tidak bisa melihat titik disfungsi dari sebuah hubungan, mereka biasanya yang masih memperjuangkan. Seperti aku, dulu.

Kadang, menjadi orang yang terus diperjuangkan itu tidak enak. Menjadi orang yang berjuang justru lebih enak. Ia memiliki tujuan dan keinginan yang jelas: melanjutkan hubungan. Orang yang diperjuangkan itu juga terkadang tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Yang dia tahu hanya keadaan seperti ini sudah tidak bisa lagi dipertahankan.

Kadang mereka yang berjuang bilang enak ya kalian tinggal pergi gitu aja, namun mereka yang diperjuangkan juga ingin berteriak enak ya kalian, menyiksa batin kami sampai titik dimana kami tidak tahu lagi apa yang sedang kami lakukan, sampai kami akhirnya memutuskan untuk pergi, namun kalian terus memblokir jalan kami dengan ucapan maaf dan tangisan penyesalan. 

Kalian pikir memutuskan untuk pergi itu gampang? Memutuskan untuk berhenti berjuang itu mudah? Ini bukan masalah rasa sayang, bukan. Entah kalian tahu atau tidak, tapi ada loh rasa sakit yang bahkan rasa sayang pun tidak lagi cukup mengakomodir.

Kalian pikir memaafkan kalian lalu memulai lagi semuanya itu mudah? Asal tahu saja, orang yang berjuang sesungguhnya merasa tolol setelah menarik lagi keputusan untuk mengakhiri semuanya. Sungguh rasanya tolol, karena mereka, yang diperjuangkan, sudah tahu kalau keadaan tidak akan pernah bisa berubah. Setidaknya, tidak semudah itu. They learn the hard way.

Perasaan orang yang diperjuangkan pun tidak akan pernah utuh, karena orang yang berjuang sebagian besar tidak benar-benar berjuang. Mereka hanya minta maaf, menyesal, namun akan ada saatnya mereka mengulangi kesalahan yang sama. Semua ini terasa seperti bermain lego dengan satu bagian yang hilang, atau tidak saling berhubungan. Mau bagaimanapun, tidak akan bisa lengkap. Namun saat kita memutuskan untuk berhenti bermain, mereka yang berjuang akan merusak semua bangunannya dan memaksa untuk membangun lagi dari awal. Padahal mereka juga tahu ada sesuatu yang hilang. Mereka hanya tidak mau, atau belum, menyadarinya.

Namun, perasaan bukanlah lego. Perasaan tidak sekokoh lego, yang anti air dan tidak mudah pecah. Perasaan tidak sekuat lego, yang setelah dihancurkan berkalikali tetap saja dapat tersusun rapi.

Setiap mereka yang diperjuangkan memberi kesempatan kedua (dan ketiga, keempat, kelima, keenam, ketuju) ketahuilah, semakin banyak kesempatan yang diberi, semakin berkurang perasaan yang tersisa.

X