Hitted

msn live statistics

Monday, June 10, 2013

Agama dan Kekerasan: Final Paper Filsafat Agama


“Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama,” Sam Harris (The Unholy Trinity of Atheism)

Agama mempunyai dua wajah; tempat dimana orang menemukan kedamaian dan tempat orang berhadapan dengan penderitaan, keputus-asaan, dan penindasan. Fenomena ini terjadi karena ada jarak antara cita-cita agama dan realita kehdupan beragama. Atas nama agama, orang bisa semena-mena memperlakukan orang lain. Agama diatas namakan dalam tindakan kekerasan, bahkan sampai ke tingkat pembunuhan.

“Mereka menyeret saya dari sungai. Mereka pegang tangan saya dan melepas sabuk saya dengan parang. Mereka lepas kaos, celana dan kaos dalam saya. Saya hanya pakai celana dalam. Mereka ambil uang Rp 2,5 juta dan Blackberry saya. Mereka lepaskan celana dalam saya dan mau memotong alat kelamin. Saya terbaring posisi bayi. Saya hanya berusaha melindungi muka saya, tapi mata kiri saya ditikam. Kemudian saya dengar mereka teriak, ‘Sudah mati, sudah mati.’” —Ahmad Masihuddin, warga Ahmadiyah 25 tahun, korban luka berat dalam serangan massa di Cikeusik, Banten, pada 6 Februari 2011, setelah polisi di lokasi kejadian membiarkan serangan. Tiga kawannya tewas dibunuh.

 “Satu pengendara motor mendekati dan coba pukul saya. Saat menunduk, saya melihat saya berdarah. Polisi ada 100 meter jaraknya. Para penyerang juga berada di dekatnya. Mereka menyerang dan memukul Pendeta Luspida Simanjuntak sampai dia terjatuh. Polisi bawa saya dan ibu pendeta dengan sepeda motor. Para penyerang mengejar dan memukul ibu pendeta tiga kali dengan batang kayu.”—Asia Lumbantoruan, paitua gereja Huria Kristen Batak Protestan Ciketing di Bekasi tentang bagaimana serang pemuda Muslim di sepeda motor menikamnya pada 4 September 2010. Dua penyerang kemudioan divonis tiga hingga 7,5 bulan penjara.[1]

Agama memang mengajarkan perdamaian, namun banyak kali ajaran agama digunakan sebagai pemuas kepentingan pribadi atau kelompok. Pembelaan diri ini yang tidak sadar akan adanya jarak antara cita-cita dan realitas kehidupan beragama. Masalahnya sebenarnya hanyalah bagaimana manusia dapat menjembatani jarak tersebut sehingga ajaran agama menjadi terwujud secara logis dan tidak lagi menjadi alat pembenaran atau legitimasi kekuasaan.

Walau teorinya agama mengajarkan pemeluknya untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama, kenyataan sering berbicara lain. Agama, terlebih perbedaannya, sering membakar kebencian dan meniupkan kecurigaan, memicu salah paham dan mengundang konflik. Mengapa agama yang dikataan bukan pemicu utama konflik malah memberi jaminan dukungan bagi pihak yang bersengketa?
Agama sering memberikan landasan ideologis dan pembenaran simbolis akan kekerasan. Pembenaran ini acap kali meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif pertentangan menjadi perjuangan membela iman dan kebenaran demi Tuhan itu sendiri. Pemistisan motif ini mengubah konflik menjadi perjuangan mempertaruhkan tujuan akhir keberadaan manusia. Motif konflik menjadi irasional, yang tercermin dalam tercampuraduknya kepentingan pribadi dengan kehendak Tuhan. Pencampur-adukkan ini karena tidak adanya unsur kritis dalam penafsiran. Pemuka agama juga harus menyadari adanya jarak antara ajaran (pengetahuan) dan tindakan. Mereka sangat menentukan dalam memberi kerangka penafsiran untuk melihat realitas dan hubungan dengan umat beragama lain. Tugas mereka seharusnya untuk menunjukkan wajah damai agama, penerimaan pluralitas, dan juga toleransi. Namun, tugas mulia itu telah tercampur kepentingan kelompok dan menjadi sangat politis. Upaya memahami kaitan agama dan politik menyentuh tiga mekanisme pokok yang menentukan, yaitu:

1.     Fungsi agama sebagai ideologi
Agama menjadi perekat suatu masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan hubungan-hubungan sosial.
2.     Agama sebagai faktor identitas
Agama menjadi seperti kepemilikan tertentu. Kepemilikan ini memberi stabilitas sosial, status, pandangan hidup, cara berfikir, dan etos. Ini menjadi lebih kental lagi jika dikombinasikan dengan etnis: islam kejawen, aceh muslim, bali hindu.
3.     Agama sebagai legitimati etis hubungan sosial
Agama mendukung suatu tatanan sosial. Formalisme agama menjadi unsur penting di dalam penghayatan karena terkait dengan masalah pengakuan sosial dan kebanggaan pemilikan kelompok.

Nellson-Pallmeyer mengajukan tesis bahwa kekerasan relijius yang dilakukan para penganut agama monoteis (Yudaisme, Kristianisme, dan Islam) tidak semata-mata masalah distorsi penafsiran teks suci. Kekerasan itu lebih berakar dalam tradisi kekerasan seakan-akan Tuhan mengkehendaki kekerasan sehingga hal itu dibenarkan oleh agama. Otoritas agama takut mempertanyakan karena agak terlihat seolah-olah mengancam kebenaran pesan Tuhan, atau menggoyahkan dasar keimanan.

Dalam kekerasan agama-agama, gambaran Tuhan yang menonjol ialah Tuhan sebagai penghukum, penganiaya, pemaksa, pembalas dendam, dan sewenang-wenang. Kekerasan Tuhan tampil sebagai bagian dari kesucianNya sehingga kekerasan Tuhan menjadi benar. Kekerasan Tuhan tampil sebagai alat utama penegakan keadilan. Kekerasan Tuhan disamarkan dalam bentuk pembebasan dan dalam rangka mengajak ke pertobatan. Dengan demikian, kekerasan atas nama agama itu diterima debagai fungsi korektif dan liberatif. Penggunaan ancaman ilahi terhadap perilaku manusia dianggap sudah semestinya karena demi kebaikan manusia itu sendiri.

Teologi seperti inilah yang sangat rentan konflik. Pertama, pencarian kebenaran sangat diwarnai oleh kekerasan dan sangat mengandalkan kekerasan. Lalu Tuhan menjadi dalih dari semua konflik atau pembenaran kekerasan. Kedua, perlawanan atau penghancuran melalui kekerasan dibenarkan oleh Kitab Suci, bahkan dianggap menjadi bagian dari keimanan. Ketiga, nasib baik akan diterima sebagai anugerah Tuhan. Ketiga wujud keyakinan ini tidak terlepas dari versi Menikean hitam-putih yang selalu menampilkan dunia dalam versi konflik antara kebaikan melawan kejahatan. Keyakinan seperti itu akan membawa sikap eksklusif yang anak membagi manusia menjadi dua; kawan-musuh, pengikut Tuhan-kafir, terpilih-pendosa. Musuh, mereka yang ridak sepaham atau seagama, harus ditobatkan atau dihancurkan. Semua bentuk kekerasan menjadi dibenarkan: diskriminasi terhadap pemeluk agama lain, larangan berhubungan terhadap pemeluk agama lain, perlakuan kasar, balas dendam, penganiayaan, pembantaian, pembunuhan. Tuhan seakan campur tangan melalui nafsu manusia untuk menegakan kebenaran. Pandangan kritis dianggap membahayakan pendakuan bahwa Kitab Suci menjadi solusi semua masalah. Ketiga agama monoteis ini pun enggan mempertanyakan arti lebih dalam dari penafsiran teks-teks di Kitab Suci.
“Dengan memerangi musuh, maka Tuhan akan menghukum mereka melalui tanganmu.”


X

Sunday, June 2, 2013

Dear lord, 
when I get to heaven
Please let me bring my man
 When he comes tell me that you'll let him in
Father tell me if you can





but our heaven is different..