Hitted

msn live statistics

Sunday, September 30, 2012

Fiksi #2

Aku percaya, hujan turun untuk menghapus semua kesedihan di bumi.

Kamu selalu tertawa dan mengatakan betapa konyolnya aku. Tak ada, katamu, tak ada hal yang seperti itu. Dewasalah.

Ya, kamu selalu menyuruh aku untuk menjadi dewasa. Meninggalkan semua pikiran-pikiran dan ide-ide rahasia untuk mewarnai langit menjadi merah jambu. Kamu, setelah menghembuskan asap dari rokok putih itu, akan berdiri dan menungguku untuk mengikuti. Lalu kita akan berjalan sebelum hari berubah jadi gelap.

Sekarang aku sedih, namun rasa-rasanya seribu hujan yang turun pun tidak akan banyak membantu.

Aku ingin berjalan kaki lagi di pasir itu. Di tepi pantai yang sangaaaaaat jauh dan sepi. Tempat dimana kita berdua duduk mengeringkan baju sambil menatap laut; mencari horizon di ujung yang berkilauan. Aku selalu merasa lucu jika berjalan diatas pasir. Susah loh berjalan tegak tanpa terjatuh. Tidak susah sih, jika kamu menggenggam tanganku.

Namun nyatanya, disampingku tidak ada kamu.

Kamu yang mengajarkan aku bahwa dunia itu jahat. Kamu yang mengajarkan aku untuk menjadi keras agar dunia tak lagi jahat. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, dunia tetap terasa jahat. Apakah kamu tidak punya cara lain? Halo?

....


Aku ingat hari terakhir kita bertemu. Kamu tersenyum banyak sekali di senja itu. Aku masih ingat irama detak jantung dan deru nafasmu yang berat. Kokoh. Seharian memang sudah mendung, namun aku tidak perduli. Firasatku mengatakan aku harus bertemu kamu hari itu. Mungkin semesta berkonspirasi. Mungkin juga tidak. Puntung rokok terakhirmu kamu lempar ke jalan. Diikuti matamu. Yang kelak akan tertutup, untukku.


'Kamu... Baik baik ya."

Empat kata. Cuma empat kata itu yang kamu ucapkan sebelum akhirnya kamu mengendarai motormu lalu pergi bersama angin yang berhembus. Motor yang knalpotnya berisik. Motor tinggi yang selalu menyusahkanku jika aku ingin memakai rok. Motor kesayanganmu. Motor kebanggaanmu.


Motor yang menjadi identitasmu.


Lucu ya? Ketika orang lain dikenali dari KTP atau SIM, aku bisa langsung mengenalimu dari plat motormu. Walau kecelakaan itu telah membuatmu hancur sehingga tidak dapat dikenali oleh siapapun, aku percaya itu kamu, sayang. Hujan yang turun membuatmu menari dan tersungkur di tanah basah. Duniaku terasa seperti berhenti berputar, sayang.


Hujan datang untuk menghapus kesedihan.

Hujan menghapus kamu.
Sebelum sempat menjadi kesedihan.




X

No comments:

Post a Comment

Hit me